Aris Me’eng: Momentum Membersihkan Citra Pers dari Oknum yang Mencederai Marwah Jurnalisme

Aris Me’eng: Momentum Membersihkan Citra Pers dari Oknum yang Mencederai Marwah Jurnalisme

Banten – Rajawaliekspres.Com Aktivis Banten, Aris Me’eng, menyampaikan keprihatinannya terhadap praktik yang diduga dilakukan oleh sejumlah oknum yang mengatasnamakan profesi wartawan. Menurutnya, tindakan seperti intimidasi, tekanan, maupun permintaan sejumlah uang dengan dalih “pengamanan pemberitaan” tidak hanya merugikan masyarakat dan pelaku usaha, tetapi juga mencoreng kehormatan profesi jurnalistik yang selama ini menjadi pilar demokrasi.

Aris mengungkapkan bahwa dirinya pernah diminta membantu melakukan koordinasi dengan salah satu pihak yang mengaku dapat mengondisikan situasi di lapangan. Harapannya sederhana, yakni menciptakan suasana yang kondusif agar aktivitas masyarakat dan dunia usaha dapat berjalan dengan baik.

Namun, menurut pengakuannya, kenyataan yang terjadi justru berbanding terbalik. Kehadiran orang-orang yang mengatasnamakan media semakin banyak, pemberitaan mengenai lokasi usaha terus bermunculan, dan situasi di lapangan dinilai semakin tidak kondusif. Ia juga mengaku menerima informasi adanya oknum yang diduga meminta sejumlah uang kepada pihak-pihak tertentu, sesuatu yang menurutnya tidak mencerminkan etika jurnalistik.

“Saya sangat menghormati wartawan yang bekerja secara profesional. Pers adalah mitra masyarakat dalam menyampaikan kebenaran. Tetapi jika ada oknum yang menjadikan identitas wartawan sebagai alat untuk menekan, mengintimidasi, atau mencari keuntungan pribadi, maka itu harus dihentikan. Jangan sampai ulah segelintir orang merusak nama baik ribuan wartawan yang bekerja dengan penuh integritas,” ujar Aris.

Menurut Aris, apabila memang terdapat persoalan yang berkaitan dengan kepentingan publik, maka seluruh pihak harus diperlakukan secara adil tanpa tebang pilih. Ia menilai tidak tepat apabila perhatian hanya difokuskan pada satu lokasi atau satu pihak, sementara persoalan serupa di tempat lain tidak mendapat perlakuan yang sama.

“Saya tidak anti kritik dan tidak anti media. Justru saya ingin profesi wartawan kembali dihormati masyarakat. Wartawan bukan profesi untuk meminta jatah, bukan pula alat tekanan. Wartawan adalah penjaga fakta, penyampai informasi, dan pengawas jalannya pemerintahan serta kehidupan sosial secara objektif,” tegasnya.

Aris berharap momentum ini dapat menjadi bahan evaluasi bersama bagi organisasi pers, perusahaan media, aparat penegak hukum, dan Dewan Pers agar semakin serius membedakan wartawan profesional dengan oknum yang hanya memanfaatkan kartu identitas media untuk kepentingan pribadi.

“Sudah saatnya masyarakat tidak lagi takut kepada oknum yang mengaku wartawan. Yang harus dihormati adalah karya jurnalistiknya, integritasnya, dan kepatuhannya terhadap Kode Etik Jurnalistik. Dengan membersihkan profesi dari oknum-oknum yang menyalahgunakan nama pers, kita justru sedang mengembalikan marwah wartawan sebagai profesi yang mulia dan terhormat,” pungkas Aris.

Aris menegaskan bahwa pernyataannya bukan ditujukan untuk menyerang profesi wartawan secara keseluruhan, melainkan sebagai bentuk kepedulian agar citra pers tetap terjaga. Menurutnya, wartawan profesional adalah mitra strategis masyarakat dalam membangun transparansi dan keadilan, sedangkan tindakan yang diduga melanggar hukum maupun kode etik harus diproses sesuai ketentuan yang berlaku tanpa menggeneralisasi seluruh insan pers.(Red-Oln)

Tinggalkan Balasan